Selasa, 08 September 2015

Jadi Famous (Part 2)



Benar nih mau jadi terkenal? Aku tau cara yang ampuh. Ikuti saja audisi menyanyi. Kan sekarang lagi menjamur kontes menyanyi di TV yang menjanjikan menjadi famous dalam waktu sangat singkat. Mudah. Kalian hanya harus memiliki suara yang minimal tidak false lah saat nyanyi. Atau kalau bener-bener niat jadi terkenal tapi gak bisa nyanyi. Jadi unik saja. Goyang heboh saat lagu mellow. Tempo berantakan saat nyanyi. Teriak-teriak. Atau pakai pakaian yang aneh saja. Pasti jurinya tertarik dan dimasukkan TV. Benar kan?.
            Haha. Aku sih sudah cukup famous di sekolah. Saat jadi juara kelas, jadi pimpinan redaksi majalah sekolah, dan berbagai hal unik lainya. Rasanya menyenangkan. Menyenangkan sekali. Saat itu aku bener-bener ingin jadi super famous di sekolah.
            Tapi ya itu bertahan sampai semester 5 saja. Saat di pengujung perjalan menengah atas. Banyak yang tidak sesuai dengan rencanaku. Nilai UN-ku anjlok jauh. Aku gagal jadi cumloud. Meskipun yang jadi cumloud adalah temenku sendiri yang notabene juga sangat pintar dari aku. Aku mulai malu saat itu. Reputasiku benar-benar hancur. Meskipun banyak juga yang tidak mebicarakanku. Tapi bagiku di luar sana aku beranggapan aku lah yang menjadi topic utama pergunjingan mereka.
            Itu tidak langsung berhenti. Maksudku. Setelah itu aku tidak lolos seleksi akbar menuju PTN tanpa tes. Hancur sih. Sempet meneteskan air mata jua. Akhirnya bangkit. Bangkit. Dan jatuh lagi di seleksi akbar menuju PTN dengan tes. Mampus sudah aku. Aku super malu. Malu bertemu teman-teman. Malu bertemu bapak ibu guru. Dan sempat frustasi.
            Setiap malam tidak bisa tidur pulas. Kepikiran ini dan itu. Tidur sejam kebangun. Tidur setengah jam kebangun. Benar-benar tidak bisa pulas. Memang ada lah teman dekatku sekitar 5 orang lah yang setia menanyai kabarku lewat media social apapun. Tapi mereka mungkin tidak bisa merasakan jadi aku. Aku bahkan menyesal jadi famous di sekolah. Adek kelas dari redaksi majalah, adek kelas dari olimpiade yang sama denganku dulu. Selalu update menanyai pertanyaan horror “diterima dimana mas?”.
            Aku malu dan sejak saat itu aku sudah tidak mau jadi famous lagi. Tapi ya nasi sudah benjadi bubur. Bubur ya di kasih ayam dan kerupuk. Enak kan? Menyesal iya. Kalau waktu bisa diulang, apakah aku akan merubahnya? Tentu tidak. Ini perjalanan hidupku. Sangat menarik bukan. Tidak akan sama ceritnya kalau di ubah-ubah. Jadi ya biarlah.

Jadi Famous (Part 1)



Menjadi terkenal adalah hal yang banyak di inginkan bagi mayoritas penghuni bumi seperti manusia. Apapun caranya akan dilakukan untuk menjadi terkenal. Mungkin itu termasuk aku. Aku dulu maksudnya. Nah.. kenapa dulu? Kenapa gak sekarang? Emang sekarang gak pingin terkenal? Jawabanya TIDAK!!
Aku siapa sih? Aku bisa apa sih? Toh aku juga gak pingin jadi terkenal. Meskipun sulit banget bagiku untuk menjadi biasa-biasa saja. Misalnya di sekolah. Hampir semua guru dan sebagian siswa pasti akan kenal aku. Bukan karena aku adalah siswa teladan dan lainya. Aku memang pintar. Tapi yang lebih pintar dari aku juga gak terhitung.
Mereka semua mengenalku karena fisikku. Aku ini terpendek di kelas (untuk laki-laki). Tinggiku hanya sekitar 160cm. aku juga paling kurus disana. Terlebih lagi aku berkacamata dan berjidat jenong. Emm.. makin famous deh karena keunikan fisikku. Hehe.. lengkap ya? Tapi ya Alhamdulillah di sekolah gaada yang menghinaku. Aku juga tetap bersyukur kepada Allah atas setiap pemberianya padaku.
Pengalaman famousku yang pertama karena aku juara kelas. Sungguh aneh bukan? Siapa aku? Belajar dengan serius pun enggak. Menginginkan juara kelas ya enggak. Kaget. Iya. Tapi bagai pangeran yang secara gak sengaja di pakaikan mahkota. Dia pasti gak mau melepaskan mahkota itu begitu saja. Sama sepertiku. Disemester berikutnya pun aku jadi tetep ingin juara kelas, aku gak akan melepaskanya.

Jumat, 05 Juni 2015

Maaf!!! : Indonesia tak layak Demokrasi



Hai sobat pencari ilmu. Postingan saya yang kedua ini membahas tentang sistem pemerintahan yang dianut Indonesia. Yakni Demokrasi.

Bagi kebanyakan orang demokrasi adalah sebuah mimpi besar dari sebuah Negara, karena mengatas namakan kepentingan rakyat. Berlandaskan dari dalil “Dari Rakyat, Oleh Rakyat, dan Untuk Rakyat”. Berdasarkan ketiga dalil tersebut saya dapat menyimpulkan :
1.                  Dari Rakyat : memang dari jaman kakek buyut, pemerintahan yang menjalankan memang dari rakyat. Bukan dari robot atau tangan tuhan (maaf)
2.                  Oleh rakyat : sejak tahun 1950 saat awal pemilu di Indonesia, memang presiden dan para sekawanya berasal dari pilihan rakyat. Mungkin ini yang dinamakan oleh rakyat. Tapi ketika terjadi perubahan yang buruk dari pemerintahan pasti rakyat yang disalahkan. “Salah sendiri dulu pilih Si A, Si B. sekarang kan jadinya begini”.
3.                 Untuk rakyat : dalil ini yang perlu dikaji ulang. Yakin semua ini demi rakyat? Seberapa besar perubahan untuk rakyat yang telah dilaksanakan sejak jaman kemerdekaan atau maaf saja sejak reformasi 1998?

Inilah maksud saya bahwa Indonesia tidak layak Demokrasi. Sebenarnya saya malas membahas politik. Karena bagi saya, politik tidak lebih adalah permainan terbesar dalam bisnis omong kosong, industri artifisial penuh kosmetik yang pernah ada di dunia. Merubah omong kosong menjadi sesuatu yang bisa dijual dengan manis, dan diobral dengan larisnya oleh para pemilih, anda boleh saja jika tidak sependapat dengan saya. Silahkan.

Kembali kemasalah demokrasi. Apakah demokrasi adalah sistem terbaik yang diberikan Tuhan? Di firmankan Tuhan dalam kitab suci? Jelas tidak. Demokrasi adalah hasil ciptaan manusia. Dalam catatan sejarah, sistem otoriter absolut juga bisa memberikan kesejahteraan lebih baik. Tuhan hanya memerintahkan kita memberikan sebuah urusan kepada ahlinya. Silakan cek banyak kitab suci. Hanya itu. tidak ada model pemerintahan apalagi demokrasi dalam ajaran kitab suci. Lantas apakah suara terbanyak adalah suara Tuhan? Omong kosong. Berani sekali manusia mengklaim sepihak.

Jadi menurut saya, Indonesia sangat layak untuk demokrasi. Tapi bukan sekarang. Mungkin 20-30 tahun lagi kalau memang Indonesia benar-benar sudah bebenah. Sebaiknya Indonesia saat ini diatur oleh sekelompok penguasa yang benar-benar demi kepentingan dan mensejahterakan rakyat. Bukan seperti sekarang ini. Karena pada dasarnya orang Indonesia itu pintar-pintar. Tapi mereka seolah menutup mata dan memilih hidup bahagia sendiri atau sekedar kowar-kowar di social media bahkan blog (hehe termasuk saya).

Sekali lagi kepada semua pembaca yang pintar, tulisan diatas hanyalah opini penulis semata. Maaf jika ada pihak yang tersinggung.

Salam pencari ilmu!