Benar nih mau jadi
terkenal? Aku tau cara yang ampuh. Ikuti saja audisi menyanyi. Kan sekarang
lagi menjamur kontes menyanyi di TV yang menjanjikan menjadi famous dalam waktu
sangat singkat. Mudah. Kalian hanya harus memiliki suara yang minimal tidak
false lah saat nyanyi. Atau kalau bener-bener niat jadi terkenal tapi gak bisa
nyanyi. Jadi unik saja. Goyang heboh saat lagu mellow. Tempo berantakan saat
nyanyi. Teriak-teriak. Atau pakai pakaian yang aneh saja. Pasti jurinya
tertarik dan dimasukkan TV. Benar kan?.
Haha. Aku sih sudah cukup famous di sekolah. Saat jadi
juara kelas, jadi pimpinan redaksi majalah sekolah, dan berbagai hal unik
lainya. Rasanya menyenangkan. Menyenangkan sekali. Saat itu aku bener-bener
ingin jadi super famous di sekolah.
Tapi ya itu bertahan sampai semester 5 saja. Saat di
pengujung perjalan menengah atas. Banyak yang tidak sesuai dengan rencanaku.
Nilai UN-ku anjlok jauh. Aku gagal jadi cumloud. Meskipun yang jadi cumloud
adalah temenku sendiri yang notabene juga sangat pintar dari aku. Aku mulai
malu saat itu. Reputasiku benar-benar hancur. Meskipun banyak juga yang tidak
mebicarakanku. Tapi bagiku di luar sana aku beranggapan aku lah yang menjadi
topic utama pergunjingan mereka.
Itu tidak langsung berhenti. Maksudku. Setelah itu aku
tidak lolos seleksi akbar menuju PTN tanpa tes. Hancur sih. Sempet meneteskan
air mata jua. Akhirnya bangkit. Bangkit. Dan jatuh lagi di seleksi akbar menuju
PTN dengan tes. Mampus sudah aku. Aku super malu. Malu bertemu teman-teman.
Malu bertemu bapak ibu guru. Dan sempat frustasi.
Setiap malam tidak bisa tidur pulas. Kepikiran ini dan
itu. Tidur sejam kebangun. Tidur setengah jam kebangun. Benar-benar tidak bisa
pulas. Memang ada lah teman dekatku sekitar 5 orang lah yang setia menanyai
kabarku lewat media social apapun. Tapi mereka mungkin tidak bisa merasakan
jadi aku. Aku bahkan menyesal jadi famous di sekolah. Adek kelas dari redaksi
majalah, adek kelas dari olimpiade yang sama denganku dulu. Selalu update
menanyai pertanyaan horror “diterima dimana mas?”.
Aku malu dan sejak saat itu aku sudah tidak mau jadi
famous lagi. Tapi ya nasi sudah benjadi bubur. Bubur ya di kasih ayam dan
kerupuk. Enak kan? Menyesal iya. Kalau waktu bisa diulang, apakah aku akan
merubahnya? Tentu tidak. Ini perjalanan hidupku. Sangat menarik bukan. Tidak
akan sama ceritnya kalau di ubah-ubah. Jadi ya biarlah.